Di sela-sela gedung perkantoran dan kafe artisan Jakarta Selatan, ada lanskap baru yang menyebar intens : lapangan paddle. Kemunculanya bukan sekadar menjadi arena olahraga, melainkan telah menjadi panggung sosial, tempat berolahraga sekaligus tempat untuk “dilihat”. Paddle tumbuh bukan melalui arus besar media arus utama, tapi melalui komunitas, akun Instagram dan testimoni dalam lingkaran teman. Dalam waktu singkat, Paddle menjelma menjadi simbol kebaruan gaya hidup urban.

            Lebih dari sekadar aktivitas fisik, paddle menawarkan pengalaman yang menggabungkan tubuh, ruang, dan waktu dalam sebuah bentuk satu paket ekspresi budaya urban. Dalam kacamata Pierre Bourdieu, paddle dapat dibaca sebagai field—arena tempat berbagai bentuk kapital dipertarungkan: ekonomi (siapa yang mampu menyewa dan berpartisipasi), kultural (gaya, bahasa tubuh, nilai estetika), dan simbolik (pengakuan sosial, performa digital, inklusi komunitas).

            Lapangan paddle bukan hanya tempat untuk memukul bola, melainkan juga tempat untuk mengada, menegaskan eksistensi diri di hadapan orang lain. Di tengah kota yang cepat, kompetitif, dan penuh tekanan, paddle menjadi cara untuk menyatakan: “Saya masih bisa. Saya masih di sini.” Itu adalah pernyataan eksistensial, bahkan ketika tidak diucapkan secara verbal.

Paddle Sebagai Panggung Eksistensial: Dari Sartre hingga Fromm

            Dalam kebisingan Jakarta dan keseragaman gaya hidup, muncul kebutuhan kuat untuk “merasa hidup”. Paddle muncul sebagai jawaban tak terduga atas kahampaan yang mungkin ditinggalkan oleh rutinitas, layar, dan tekanan hidup modern. Paddle menjadi ritual kecil yang memulihkan rasa kendali dan kehadiran. Jean-Paul Sartre pernah menyatakan tentang existence precedes essence, kita bukan siapa-siapa sampai kita memilih untuk “menjadi”. Dalam semangat ini, paddle menjadi tindakan sadar untuk menjadi seseorang. Bukan sekadar bagian dari algoritma digital atau sistem kerja, melainkan individu yang punya pilihan, gerakan, dan ruang fisik.

            Keringat di lapangan paddle bukan sekadar hasil dari aktivitas fisik, tapi menjadi metafora perlawanan terhadap absurditas hidup, Ada makna dalam gerakan yang ritmis, dalam pertandingan ringan namun seru, dalam kebersamaan yang bisa jadi terasa lebih organik.

Erich Fromm dalam The Art of Being mengatakan bahwa manusia modern terlalu fokus pada memiliki daripada menjadi. Paddle adalah bagian bentuk “menjadi” : menjadi aktif, menjadi bagian dari komunitas, menjadi hadir secara fisik dan mental. Bahkan ketika kalah dalam pertandingan, seseorang tetap merasa “utuh”. Kekalahan tidak menghapus makna, justru menegaskannya—karena ia dialami dalam realitas, bukan dalam simulasi digital. Di sinilah paddle tidak hanya olahraga, tetapi tindakan eksistensial kecil yang menolak lenyapnya makna di era konektivitas yang semakin semu.

Representasi Gaya Hidup dan Penanda Status: Dari Lapangan ke Feed

            Fenomena paddle sulit dipisahkan dari tampilannya yang fotogenik. Lapangan biru muda, pencahayaan yang ideal, dan dinding kaca yang tembus pandang menjadikannya bukan hanya arena bermain, tapi juga latar visual untuk eksistensi digital. Paddle bukan hanya dipraktikkan, tapi juga “dipamerkan”. Dalam kerangka teori distinctionnya Pierre Bourdieu, selera bukan sesuatu yang netral atau personal, melainkan hasil dari posisi seseorang dalam struktur sosial. Memilih paddle—dibanding futsal, bulutangkis, atau jogging—adalah bentuk “pemilihan selera” yang merefleksikan modal kultural dan sosial. Ia adalah sinyal kelas: modern, kosmopolitan, connected.

Simbol-simbolnya jelas: raket paddle berharga jutaan rupiah, outfit bermerek Lululemon atau Nike Tech, serta ritual check-in di klub paddle eksklusif. Semua ini menyampaikan narasi tersirat: bahwa sang pemain adalah bagian dari “komunitas yang tahu tren”, punya waktu luang, dan akses ke gaya hidup tertentu. Kita menyaksikan lahirnya “estetika olahraga sosial”: tubuh yang aktif tapi modis, komunitas yang inklusif secara wacana namun eksklusif secara praktik, dan narasi tentang kesehatan yang dibungkus dalam gaya hidup yang stylish. Paddle menyatukan citra “sehat”, “urban”, dan “terkurasi”—dan itu menjadi alat distingsi sosial yang kuat.

Mobilitas Sosial Simbolik di Tengah Ekonomi yang Lesu

            Yang paradoks, paddle justru tumbuh ketika ekonomi kota sedang tidak bersahabat. Harga kebutuhan pokok naik, pekerjaan semakin tidak pasti, dan banyak orang menunda keputusan besar seperti membeli rumah atau kendaraan. Tapi lapangan paddle tetap ramai, dan jumlah klubnya terus bertambah.

            Dalam konteks ini, paddle dapat dilihat sebagai mekanisme mobilitas sosial simbolik. Ketika mobilitas vertikal melalui jalur ekonomi menjadi stagnan, orang mencari jalur alternatif—jalur yang lebih simbolik, performatif, dan berbasis impresi. Jika teringat pada Maslow, setelah kebutuhan dasar dan keamanan tercapai, manusia mendambakan pengakuan dan aktualisasi diri. Ketika aktualisasi dalam bentuk ekonomi atau karier tertunda, maka tampil dalam arena sosial seperti paddle menjadi bentuk sublimasi kebutuhan itu.

            Raket paddle menggantikan barang mewah. Klub paddle menggantikan networking konvensional. Kemenangan di lapangan menjadi kemenangan kecil yang mewakili pencapaian yang sulit dicapai di tempat kerja. Ini bukan semata eskapisme, tetapi juga upaya untuk tetap relevan secara sosial. Paddle adalah bentuk baru dari status signaling di tengah keterbatasan. Seperti analogi klasik tentang orang miskin yang tetap membeli sepatu bagus untuk terlihat pantas bekerja, paddle menjadi cara kelas menengah untuk mempertahankan ilusi kestabilan dan “kemajuan”.

Paddle sebagai Ruang Interaksi Sosial Baru

Ruang perjumpaan di kota selalu berubah mengikuti ekonomi dan budaya. Jika dulu mall menjadi titik temu, lalu bergeser ke coffee shop dan co-working space, kini paddle menjelma sebagai “ruang sosial berbayar” yang baru. Namun tidak semua ruang diciptakan setara. Paddle memiliki logika seleksi: harga sewa, akses lokasi, referensi teman, bahkan gesture tubuh dan cara berbicara. Ia mengingatkan pada analisis Norbert Elias tentang club society—ruang-ruang semi-tertutup yang dirancang untuk menjaga homogenitas kelas dan nilai sosial tertentu.

Namun paddle juga menyimpan ambiguitas. Ia adalah ruang tertutup yang tampak terbuka. Banyak inisiatif komunitas membuka kelas pemula, turnamen sosial, bahkan menyediakan pelatihan inklusif. Tapi tetap ada kontrol sosial halus tentang siapa yang bisa “fit in”. Di sinilah paddle merefleksikan ketegangan kota modern: antara keterbukaan dan eksklusivitas, antara konektivitas dan seleksi. Ia adalah ruang di mana batas-batas kelas dinegosiasikan ulang—tidak melalui kekakuan ekonomi, tapi melalui gaya, sikap, dan keakraban sosial.

Ketegangan Antara Performa dan Keaslian

Di tengah tren paddle yang makin populer, muncul juga paradoks: antara bermain sungguhan dan bermain demi konten. Kamera menyala, story Instagram dibuat, bahkan hasil pertandingan kadang tak sepenting momen yang berhasil ditangkap untuk publik. Inilah wilayah di mana performativitas mengambil alih otentisitas. Kita bisa meminjam gagasan Michel Foucault tentang disiplin tubuh. Paddle—sebagaimana gym atau yoga di era sebelumnya—menjadi cara tubuh didisiplinkan secara sosial: bentuk, gaya, stamina, dan cara bicara di lapangan menjadi bagian dari koreografi sosial.

Tubuh tak lagi bebas sepenuhnya, melainkan harus sesuai ekspektasi visual dan sosial. Paddle mengajarkan kebugaran, tapi juga membentuk norma baru tentang cara menjadi “modern dan menarik”. Ia adalah kebebasan yang dibingkai ulang. Tentu saja ini tidak selalu negatif. Namun penting disadari bahwa lapangan paddle tidak bebas nilai. Ia adalah ruang yang mengatur, membentuk, dan menstandarkan cara menjadi urban. Maka, pengalaman otentik tetap mungkin, tetapi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang membentuknya.

Paddle Sebagai Cermin Kelas Menengah Urban

                  Pada akhirnya, paddle mencerminkan kondisi kelas menengah kota besar yang rapuh namun penuh strategi. Ia menampilkan keinginan untuk tetap sehat, tetap trendy, tetap terhubung—meski banyak yang sedang menghadapi stagnasi karier, tekanan ekonomi, atau krisis makna. Paddle bukan pelarian. Ia adalah pencarian. Pencarian ruang yang aman untuk berinteraksi. Pencarian cara untuk tetap merasa hidup. Pencarian identitas baru di tengah kota yang makin tidak manusiawi.

                  Kelas menengah kota tidak lagi menaklukkan dunia melalui properti atau pencapaian besar, melainkan melalui komunitas, gaya, dan momen yang terlihat “berarti”. Paddle menyediakan itu semua—dan dengan cara yang menyenangkan, minimalis, dan sosial. “Man is nothing else but what he makes of himself.” kata Jean-Paul Sartre. Dalam paddle, manusia urban sedang merancang ulang dirinya sendiri, sambil tertawa, berteriak, dan memukul bola. Di tengah ketidakpastian, mereka membentuk makna. Dan selama makna itu bisa dibagikan, difoto, dan dikenang, paddle akan terus tumbuh, setidaknya untuk sementara waktu.

alt kultur Avatar

Published by

Leave a comment