Kita hidup dalam dunia yang menuntut tubuh untuk selalu dapat dibaca, dievaluasi, dan dimaksimalkan. Teknologi pelacak aktivitas fisik seperti smartwatch, aplikasi kesehatan, dan sleep tracker kini menjadi alat sehari-hari yang melampaui fungsi medis. Mereka tidak hanya hadir sebagai alat bantu, melainkan menjadi simbol gaya hidup dan kontrol diri. Tubuh telah menjadi dasbor tempat berbagai indikator performa ditampilkan dan dipantau, detak jantung, kadar oksigen, ritme tidur, jumlah langkah, bahkan tingkat stres harian.

            Dalam transformasi ini, pengalaman tubuh sebagai pusat kesadaran dan emosi semakin kehilangan ruang. Tubuh, yang dalam antropologi klasik dipahami sebagai wadah pengalaman kultural dan relasional (Mauss, Geertz), kini menjadi objek kalkulasi yang dikendalikan oleh parameter-parameter digital. Hal yang paling mencolok adalah bergesernya kepercayaan dari sinyal tubuh ke indikator eksternal: orang merasa sehat jika jam tangannya mengatakan demikian, bukan jika tubuhnya sungguh merasa demikian.

            Dalam diskusi psikologi humanistik, fenomena ini bisa dilihat sebagai bentuk krisis organismic valuing, istilah Carl Rogers untuk menggambarkan kemampuan seseorang mendengarkan suara internalnya. Ketika manusia menyerahkan nilai dirinya pada dashboard digital, maka otonomi psikologisnya terfragmentasi. Ini menciptakan keterasingan baru, bukan dari dunia luar, melainkan dari tubuhnya sendiri.

            Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya hilangnya spontanitas dan perasaan otentik, tetapi hadirnya bentuk baru kekuasaan yang bekerja dari dalam: kekuasaan melalui pelacakan, pengawasan, dan kontrol yang bersifat personal dan sangat halus. Kita tidak hanya memantau diri sendiri, tapi membiarkan sistem untuk ikut menilai dan mengarahkan pilihan kita.

Hilangnya Spontanitas dan Intervensi dalam Ruang Pribadi

            Spontanitas adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia. Ia memberi ruang bagi ketidakterdugaan, kreativitas, dan makna personal yang muncul dari waktu-waktu “tidak terencana.” Namun sistem self-tracking mendorong kita untuk merencanakan dan mengukur segalanya: jam tidur, kalori masuk, target olahraga, hingga tingkat produktivitas harian.

            Dalam banyak penjelasan di psikologi eksistensial, fenomena ini merupakan bentuk pupusnya authentic being, diri yang sejati. Manusia mulai menjalani hidup sebagai daftar tugas yang harus dicentang, bukan sebagai pengalaman yang dijalani dengan refleksi. Dalam konteks psikologi kognitif, hal ini juga meningkatkan beban mental: otak terus bekerja dalam mode evaluatif, menciptakan cognitive overload yang tak selalu disadari. Pada akhirnya, bukannya merasa lebih sehat dan terkendali, banyak orang justru mengalami kecemasan baru, rasa bersalah karena gagal mencapai target harian, atau rasa malu karena tidak tampil optimal dalam grafik pribadi.

            Namun problem ini lebih dalam dari sekadar tekanan performa. Kita tengah memasuki fase baru dari surveillance society, di mana pengawasan tidak lagi dilakukan secara sosial (seperti kamera di ruang publik), tetapi secara biologis. Teknologi wearable telah membuka pintu untuk bentuk pengawasan yang sangat personal, mengakses denyut jantung, suhu tubuh, hormon, bahkan gelombang otak. Kita tidak hanya diawasi dalam perilaku, tapi juga dalam reaksi fisik terdalam.

            Shoshana Zuboff, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism, menyatakan bahwa bentuk kapitalisme baru tidak lagi menjual produk, tetapi menjual prediksi atas perilaku manusia. Dan untuk bisa memprediksi dengan presisi tinggi, sistem membutuhkan data biologis: kapan kita cemas, kapan kita tertarik, kapan kita merasa tidak nyaman. Inilah yang membuat self-tracking menjadi pengintai yang punya rencana : ia bukan hanya teknologi personal, tapi bagian dari mesin ekonomi yang memburu tubuh kita sebagai ladang data. Ketika informasi biologis menjadi komoditas, maka batas antara tubuh sebagai hak pribadi dan tubuh sebagai data menjadi kabur. Kita tidak hanya sedang mengoptimalkan hidup, kita sedang dieksploitasi melalui kehidupan kita sendiri.

Masa Depan: Tubuh Sebagai Komoditas dan Arena Kuasa Baru

            Dampak dari perluasan surveillance ke wilayah biologis tidak hanya bersifat psikologis atau budaya, tetapi juga sangat politis. Di masa depan, data biologis bisa menjadi syarat kerja, akses asuransi, bahkan bentuk peringkat sosial. Bayangkan jika skor tidur, level stres, atau grafik kebugaran menjadi bagian dari CV. Atau lebih jauh: bagaimana jika algoritma menentukan bahwa seseorang tidak layak menerima promosi karena tidak cukup “fit” secara digital?

            Kita tengah bergerak menuju era di mana manusia tidak hanya diawasi, tapi di-intervensi. Teknologi yang membaca tubuh bisa berubah menjadi teknologi yang mengatur tubuh—melalui saran otomatis, notifikasi korektif, bahkan pemaksaan perilaku berbasis prediksi algoritmik. Meminjam logika Foucault, ini adalah bentuk mutakhir dari kekuasaan: digital mengatur hidup melalui tubuh, secara sistemik namun tak terlihat.

            Teknologi seperti neural wearable, chip pemantau glukosa, atau AI yang membaca emosi dari ekspresi wajah hanyalah permulaan. Intervensi terhadap tubuh akan semakin presisi, dan semakin tidak terlihat. Kita akan hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai biometric governance: sistem kekuasaan yang mengelola manusia berdasarkan data biometrik mereka.

Apakah fenomena ini membawa risiko? Beberapa pemikir mulai mengkhawatirkan proses erosi atas hak atas tubuh, hilangnya kendali otonom, dan pemusatan kekuasaan pada entitas yang memiliki akses penuh terhadap sistem tersebut—perusahaan teknologi, penyedia asuransi, bahkan negara. Dalam konteks ini, privasi bukan lagi soal “apa yang kita sembunyikan,” tetapi “apa yang masih kita miliki sebagai milik sendiri.”

            Maka, kita tidak sedang menghadapi pertarungan antara manusia dan teknologi, tapi pertarungan untuk mempertahankan ruang kemanusiaan yang tak bisa diukur, tak bisa dijual, dan tak bisa diotomatisasi.

Mengembalikan Hak atas Tubuh dan Kehidupan

            Di tengah lanskap yang semakin menghargai angka ketimbang perasaan, dan grafik ketimbang refleksi, kita perlu merebut kembali hak untuk merasakan hidup. Kita perlu mempertanyakan logika bahwa semua harus bisa diukur, dan mengingat bahwa kehidupan yang utuh tidak selalu terencana, tidak selalu efisien, dan tidak selalu tampil dalam bentuk performa optimal. Tubuh bukan alat, bukan ladang data, bukan unit kerja. Tubuh adalah ruang pengalaman, ekspresi, dan makna. Dan seperti kata Giorgio Agamben, kini ada asumsi bahwa kekuasaan tertinggi bukanlah yang mengatur hidup, tapi yang mampu mendefinisikan apa yang dianggap hidup itu sendiri. Dalam era dasbor tubuh dan konsumerisme performa, tugas kebudayaan adalah sederhana namun radikal: Mengembalikan tubuh kepada manusia.

Leave a comment