Di jagat media sosial, kita tak hanya dilihat oleh orang lain, tapi juga oleh mesin, jaringan, dan analitik. Diluar itu, ada satu hal yang lebih penting, banyak orang mulai biasa melihat dan mengawasi dirinya sendiri. Pengguna media sosial menimbang kata-kata sebelum menulis caption dan hashtag, menyunting gestur sebelum membagikan video, dan mengedit gaya kalimat sebelum menyuarakan pendapat. Dalam konteks ini, pengawasan bukan hanya eksternal, tapi menjadi sesuatu yang kita internalisasi kan. Kita adalah pengawas dan yang diawasi sekaligus.

            Bayangkan, anak muda yang menyiapkan konten TikTok setiap sore. Ia memilih baju yang menurutnya akan “nyambung” dengan tren terbaru, memikirkan transisi video, dan mencoba berbagai ekspresi wajah. Tapi lebih dari sekadar ekspresi artistik, ada kalkulasi: apakah ini akan disukai? Apakah akan mendapatkan komentar atau dibagikan ulang oleh akun-akun populer? Ini bukan sekadar kreativitas, melainkan manajemen pencitraan yang nyaris konstan.

Fenomena ini bisa dipahami melalui pemikiran Erving Goffman, yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung, ketika individu menampilkan dirinya dalam berbagai “front stage”. Di media sosial, semua ruang menjadi panggung. Tidak ada lagi ruang istirahat dari performa. Bahkan ruang tidur kini bisa menjadi lokasi syuting; momen kelelahan bisa menjadi konten motivasi. Kita hidup dalam keadaan terus-menerus mengatur ekspresi diri, menjaganya tetap selaras dengan citra yang telah kita bentuk.

Senyuman persembahan untuk algoritma

            Kita tidak hanya merepresentasikan diri untuk dilihat, tapi juga untuk dihitung. Algoritma memberi kita umpan balik: likes, views, shares. Angka-angka ini memberi ilusi bahwa kita dimengerti dan dihargai. Namun di balik itu, ada logika yang lebih dalam: kita secara sukarela mengedit diri agar lebih sesuai dengan ekspektasi sistem. Itulah bentuk baru dari kepatuhan.

Seorang ibu muda yang awalnya hanya membagikan kegiatan harian anaknya, lama-lama mulai memperhatikan waktu posting, kualitas kamera, bahkan mulai membeli properti pendukung visual. Semua itu dilakukan karena satu alasan: peningkatan engagement. Di titik itu, bukan lagi kehidupan yang ditampilkan, tapi performa kehidupan.

            Dalam kerangka ini, kita dapat meminjam pemikiran Byung-Chul Han yang menggambarkan masyarakat saat ini sebagai “masyarakat transparan”. Segalanya harus bisa dilihat, diakses, dan dibagikan. Dalam logika ini, semakin kita terbuka, semakin kita tampak nyata. Padahal yang terjadi bukan kedalaman makna, melainkan dataran luas visual tanpa substansi.

            Kita menciptakan momen yang tampak spontan namun telah direncanakan matang. Kita tersenyum pada kamera bukan karena gembira, tetapi karena tahu ekspresi itulah yang paling bisa “engage”. Bahkan kesedihan pun kini dikoreografi: air mata dalam pencahayaan lembut, suara latar instrumental, dan caption yang menyentuh.

Self-Branding dan Normalisasi Performa

            Sosiolog seperti Zygmunt Bauman menyebut masa kini sebagai era “modernitas yang cair”. Dalam cairnya identitas, tidak ada bentuk tetap; kita harus terus mencetak ulang citra diri kita. Maka muncullah praktik self-branding, bukan hanya di kalangan selebriti, tapi juga individu biasa. Setiap orang menjadi produk; setiap momen menjadi potensi konten.

Kita melihat ini dalam keseharian: dari guru TK yang mengubah kegiatan kelas menjadi reels edukatif, hingga pekerja kantoran yang mengubah presentasi Zoom menjadi konten LinkedIn. Dalam proses ini, nilai-nilai seperti keaslian, spontanitas, atau bahkan privasi menjadi tereduksi.

            Kita mengalami apa yang disebut oleh Sherry Turkle sebagai the tethered self — diri yang selalu terhubung, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh hadir. Bahkan dalam percakapan langsung, kita memikirkan bagaimana momen itu bisa diabadikan untuk story. Kita menghadiri pertemuan bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk memotret dan menandai lokasi. Kita membaca buku bukan hanya untuk merenung, tetapi agar bisa mem-posting kutipan. Dalam titik ini, gaya hidup menjadi kurasi konten.

Ilusi Kendali dan Kerapuhan Psikologis

            Secara psikologis, self-surveillance menawarkan ilusi kontrol. Kita merasa mengelola citra, memilih narasi, dan mengatur tempo hidup digital kita. Namun di saat yang sama, kita menjadi sangat rentan. Konsep cognitive dissonance dari Leon Festinger menjadi penting di sini. Ketika citra yang kita tampilkan tak sesuai dengan nilai atau perasaan batin, muncul ketegangan psikis.

            Bayangkan seorang mahasiswa yang mengkampanyekan kesehatan mental di Instagram, tapi diam-diam merasa tertekan oleh kewajiban untuk selalu tampak kuat. Atau influencer gaya hidup minimalis yang diam-diam kewalahan menyusun estetika rumahnya agar tetap terlihat seperti katalog.

            Teori “nudging” dari Thaler dan Sunstein memperlihatkan bagaimana sistem dapat mempengaruhi keputusan individu dengan menciptakan lingkungan pilihan tertentu. Media sosial adalah ruang yang dirancang untuk mendorong kita membuat pilihan-pilihan tertentu: untuk terus tampil, terus berbagi, terus memperbaharui. Sementara itu, self-concept dari Carl Rogers menjelaskan ketegangan antara real self dan ideal self. Maka, self-surveillance menjadi bentuk adaptasi untuk menjembatani dua sisi yang semakin renggang.

Sintesa Kultural: Diri Sebagai Proyek Terus-Menerus

            Dalam budaya digital, diri tak lagi dilihat sebagai keutuhan, tapi sebagai proyek yang harus dirawat, diperbarui, dan dijual. Kita tidak lagi hidup dari pengalaman, tetapi dari dokumentasi pengalaman. Identitas menjadi performa berkelanjutan, dan citra menjadi mata uang sosial. Referensi Guy Debord dalam “The Society of the Spectacle” menjadi semakin relevan. Realitas semakin digantikan oleh representasi. Kita hidup bukan dalam kehidupan itu sendiri, tetapi dalam citra kehidupan.

            Seorang pendeta di pedalaman yang kini memiliki akun TikTok bukan untuk berdakwah secara langsung, tapi untuk “menjembatani generasi muda” melalui video motivasi berfilter dan musik latar viral. Itu bukan kesalahan—tapi itulah kenyataan budaya digital: narasi dibentuk oleh tata letak visual dan relevansi algoritmik.

Melawan dengan Kesadaran

            Krisis budaya ini menuntut refleksi mendalam. Bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk mengembalikan kedalaman dalam relasi kita dengan diri sendiri dan orang lain. Dalam dunia yang terus meminta kita tampil, mungkin keberanian terbesar adalah memilih tak terlihat. Atau, setidaknya, memilih hadir tanpa kurasi. Self-surveillance bukan sekadar fenomena teknologi, tapi cermin dari bagaimana masyarakat mendefinisikan nilai dan makna diri. Dalam kebudayaan yang mendorong performa dan visibilitas, mungkin bentuk perlawanan paling radikal adalah merawat ruang diam, keberanian menjadi tak terlihat, atau kesediaan untuk hadir tanpa harus tampil.

            Karena pada akhirnya, bukan hanya siapa yang melihat kita yang penting, tapi juga bagaimana kita melihat diri sendiri: apakah sebagai manusia yang utuh, atau sebagai algoritma yang dikurasi sempurna. Diri adalah medan perjuangan baru, dan di tengah arus citra, memilih makna bisa menjadi tindakan yang paling sunyi, namun paling bermakna.

Leave a comment