Di layar ponsel, seorang influencer kebugaran berbicara penuh semangat. Badannya atletis. Dibalut compression shirt hitam yang menonjolkan otot-otot lengannya. Suaranya mantap, saat menjelaskan manfaat nutrisi tertentu, yang menurutnya bisa membersihkan pembuluh darah. Ribuan komentar membanjiri videonya, penuh pujian dan ucapan terima kasih. Banyak orang percaya pada video itu, seperti lebih percaya  daripada penjelasan dokter spesialis jantung yang berbicara di televisi dengan nada datar dan bahasa medis yang  kaku. Penampilan Influencer yang percaya diri, bahasa awam yang mudah, dan aura selebritas influencer itu, menjadikan penjelasanya terdengar seperti kebenaran.

            Di platform lain, seorang content creator dengan puluhan ribu pengikut membagikan kisah pribadi tentang kecemasan dan kesehatan mental. Dengan tatapan meyakinkan ke kamera, ia bicara tentang cara “menyembuhkan depresi tanpa obat,” menyarankan teknik pernapasan dan afirmasi positif. Banyak yang menuliskan betapa video itu menyembuhkan, bahkan menganggapnya lebih relevan dibandingkan psikolog profesional yang bicara soal diagnosis, terapi, dan langkah medis yang terdengar rumit. Konten sang creator terasa lebih hangat, lebih dekat, dan lebih meyakinkan, meski tak ada latar pendidikan psikologi di belakangnya.

            Fenomena semacam inilah yang menjadi inti dari apa yang oleh Tom Nichols disebut sebagai The Death of Expertise. Kita hidup di zaman ketika suara orang biasa, dengan modal kamera dan kepercayaan diri, bisa mengalahkan suara seorang pakar yang bertahun-tahun belajar dan bekerja di bidangnya (Nichols, 2017). Otoritas kepakaran perlahan memudar, digantikan kepercayaan publik kepada figur-figur yang lebih fasih bercerita, lebih mampu merangkul emosi, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kebenaran menjadi semakin sulit dipisahkan dari popularitas.

            Kita hidup di zaman ketika orang biasa berani mengklaim pengetahuan yang dulu hanya dimiliki kalangan profesional, ketika data yang bertebaran dianggap setara dengan ilmu, dan ketika perdebatan tak lagi tentang siapa yang benar, melainkan siapa yang paling keras suaranya.

Tidak pernah sebelumnya, pengetahuan begitu berlimpah sekaligus begitu rapuh. Segala hal mudah dicari dan dibagikan. Namun, di tengah kelimpahan ini, muncul kebingungan: jika setiap orang menganggap dirinya ahli, lalu siapa sebenarnya yang layak didengar saat kita berbicara.

Riuhnya Suara Percakapan Sosial, Rapuhnya Keahlian

            Dulu, status seorang pakar lahir dari perjalanan panjang. Dokter belajar bertahun-tahun, menempuh ujian, dan berpraktek dengan disiplin tinggi. Peneliti sosial tenggelam dalam tumpukan buku, metodologi ilmiah, dan perdebatan intelektual. Gelar “ahli” melekat karena proses panjang yang membentuk cara berpikir dan tanggung jawab moral atas pengetahuan yang dibagikan.

Kini, peta sosial berubah drastis. Internet mengalirkan informasi tanpa saringan. Jurnal akademik, yang dulu hanya berputar di lingkaran kampus, kini tersedia gratis di berbagai platform. Video penjelasan ilmiah dan diskusi filosofis dapat diakses siapa saja. Clay Shirky menyebut bahwa Internet telah menghapus hambatan distribusi pengetahuan, membuat semua orang memiliki kesempatan berbicara (Shirky, 2008).

            Kondisi umum ini sering dianggap kemajuan, dan memang, tidak sedikit manfaatnya. Banyak orang terbantu oleh informasi daring, mulai dari tutorial kesehatan hingga wawasan teknologi. Namun, ada persoalan lain yang muncul. Tom Nichols (2017) menulis bahwa publik sering keliru memahami bahwa akses informasi otomatis berarti memiliki keahlian. Ada perbedaan besar antara membaca data dengan memahami apa arti data itu.

            Hal yang membuat persoalan ini semakin pelik adalah apa yang pernah diteliti oleh David Dunning dan Justin Kruger (1999) : Mereka menemukan bahwa orang yang pengetahuannya sedikit justru sering paling percaya diri merasa tahu banyak. Sering kita temui orang yang baru membaca artikel singkat atau menonton video singkat, langsung merasa pantas berdebat dengan ahli di bidang tersebut. Henry Jenkins menyebut gejala ini sebagai cultural populism, yakni keyakinan bahwa pengalaman pribadi sama nilainya dengan penelitian ilmiah (Jenkins, 2006).

            Di keseharian, gejala ini terasa sangat kuat. Kita sering menyaksikan orang awam berdebat dengan dokter mengenai obat atau prosedur medis. Ada juga yang merasa lebih paham soal hukum ketimbang pengacara, atau soal agama ketimbang ulama, hanya karena pernah membaca satu dua artikel di media sosial. Hal semacam ini bukan hanya mengancam profesi-profesi tertentu, melainkan juga menimbulkan kebingungan sosial yang jauh lebih besar. Orang tak lagi yakin siapa yang harus dipercaya, sebab semua orang merasa punya hak berbicara atas nama kebenaran.

Kebenaran yang Terkikis di Belantara Digital

            Jika hanya berhenti pada semangat berbagi pengetahuan, barangkali masalah ini masih dapat diatasi. Namun, teknologi digital membawa kita masuk ke pusaran yang lebih dalam. Zeynep Tufekci (2017) mengingatkan bahwa algoritma media sosial tidak sekadar memajang informasi. Ia membentuk apa yang kita lihat, apa yang disebarkan secara luas, dan apa yang dianggap layak mendapat perhatian. Algoritma tidak mencari mana yang benar. Ia mencari mana yang paling sering di-klik, paling seru dan banyak dibicarakan, paling bisa memanen emosi.

            Dalam kerangka semacam ini, konten penuh kemarahan, sensasi, atau teori konspirasi lebih mudah menyebar dibanding penjelasan seorang ahli yang tenang dan panjang. Tom Nichols (2017) mengamati bagaimana masyarakat perlahan masuk ke dalam apa yang ia sebut tribalisme informasi. Orang berkumpul dalam kelompok yang memiliki pandangan sama, saling menguatkan keyakinan, dan menolak mendengar suara lain.

            Apa yang viral sering lebih dipercaya ketimbang apa yang sahih. Ini terlihat jelas saat pandemi COVID-19. Walau dokter dan ilmuwan berulang kali menjelaskan bahwa vaksin aman dan efektif, ada saja video viral yang menuding vaksin sebagai alat konspirasi. Di Indonesia, tidak sedikit orang yang memilih pengobatan alternatif semata karena video WhatsApp yang tersebar di grup keluarga. Rasa percaya kepada ahli digantikan rasa percaya kepada orang-orang yang dianggap “satu suara” dengan kita, bahkan jika suara itu tidak memiliki dasar ilmiah sedikit pun.

            Dari sudut pandang yang berbeda, Henry Jenkins (2006) menyebut gejala ini sebagai participatory culture, ketika setiap orang merasa berhak turut menyusun narasi sosial. Namun kita harus ingat bahwa meski partisipasi penting, hal itu bisa beresiko bila publik tidak memiliki kemampuan kritis. Sebab ketika orang memegang teguh keyakinan yang salah, lalu menyebarkannya, kebohongan berubah menjadi kenyataan sosial yang dipercayai banyak orang.

Dalam diskusi publik, persoalan ini tampak sangat kuat dalam berbagai isu politik. Isu-isu seperti pemilu, kebijakan publik, hingga persoalan agama kerap memecah belah masyarakat. Yang lebih diutamakan bukan akurasi fakta, melainkan bagaimana isu itu dapat memobilisasi massa. Ini menyebabkan kebenaran makin sulit dicari, sebab segala sesuatu diukur dari seberapa besar dampak sosialnya, bukan dari apakah hal itu benar atau tidak.

Ruang Gema yang Membentuk Realitas Palsu

            Di tengah hiruk pikuk algoritma, muncul satu istilah lain yang kini sering dibicarakan: echo chamber. Istilah ini muncul untuk menggambarkan situasi di mana seseorang hanya terpapar pada suara-suara yang sejalan dengan keyakinan yang ia pegang. Informasi yang berseberangan akan diblok, dihindari, atau dicurigai. Yang tersisa hanyalah gema—suara yang sama diulang berkali-kali hingga menjadi kebenaran baru dalam benak orang-orang di dalamnya.

            Tom Nichols (2017) menilai echo chamber sebagai salah satu mesin paling kuat dalam membunuh otoritas kepakaran. Ketika orang terkurung dalam ruang gema, mereka tidak lagi merasa perlu mendengar penjelasan dari pakar. Mereka yakin kebenaran ada pada apa yang dikatakan komunitas mereka. Nichols mengingatkan bahwa masalah terbesar bukan sekadar orang tidak percaya ahli, melainkan mereka bahkan tak mau mendengar suara ahli, karena sudah merasa memiliki kebenaran versi sendiri.

            Zeynep Tufekci (2017) menunjukkan bagaimana echo chamber diciptakan secara halus oleh otomasi algoritma media sosial. Mesin digital mengamati perilaku kita, lalu menawarkan konten yang dianggap sesuai minat kita. Seiring waktu, ruang informasi menjadi sempit, membatasi apa yang kita lihat. Bagi platform digital, ini menguntungkan. Orang akan terus berlama-lama di aplikasi. Namun bagi masyarakat, ini bencana. Kita kehilangan peluang untuk mempertimbangkan sudut pandang berbeda.

            Echo chamber terlihat jelas dalam polarisasi politik. Pilihan politik seolah menjadi identitas yang menentukan siapa kawan dan siapa lawan. Orang yang mengunggah pandangan berbeda segera diserang, dijuluki penghianat, buzzer, atau antek pihak tertentu. Banyak orang akhirnya memilih diam. Ruang diskusi publik makin menyempit. Padahal, diskusi itulah salah satu pilar demokrasi.

            Masalahnya, echo chamber tidak hanya menumbuhkan rasa kebersamaan dalam kelompok. Ia juga memupuk kecurigaan terhadap siapa pun yang di luar kelompok. Fakta ilmiah sering ditolak hanya karena dianggap “agenda lawan.” Ini membuat peran pakar makin terpojok. Ketika pakar mencoba menjelaskan sesuatu, mereka sering dianggap “berpihak” atau “dibayar,” bukan dilihat sebagai pihak yang berbicara berdasarkan keahlian.

            Dalam wacana The Death of Expertise, echo chamber menempati posisi sangat penting. Ia menjadi semacam dinding yang membatasi para ahli dari publik yang perlu mereka layani. Nichols (2017) menegaskan, jika publik terus terperangkap di ruang gema, pengetahuan tidak lagi memiliki ruang untuk mempengaruhi opini. Yang terjadi hanyalah pengulangan keyakinan sempit yang kian mengeras. Kebenaran pun akhirnya menjadi sesuatu yang relatif, bergantung pada suara mayoritas di dalam ruang gema tersebut.

Menjaga Kewarasan Pengetahuan

            Di tengah kerumitan ini, muncul pertanyaan yang mendasar. Apakah masih mungkin menjaga kepercayaan pada orang yang benar-benar ahli? Atau kita harus menerima dunia di mana suara yang paling keras dianggap paling benar?

            Sherry Turkle (2015) masih menyimpan optimisme. Ia percaya manusia tetap punya kemampuan untuk kembali merawat percakapan yang rasional. Baginya, yang hilang dalam masyarakat digital adalah kesabaran untuk mendengarkan penjelasan panjang. Dunia digital melatih kita untuk selalu menginginkan jawaban cepat, ringkas, dan langsung memuaskan rasa ingin tahu. Padahal, persoalan yang rumit tidak selalu bisa dijelaskan dalam cuitan pendek atau video singkat.

            Tom Nichols (2017) pun mengakui, para ahli turut berperan dalam krisis ini. Banyak di antara mereka yang berbicara dengan bahasa teknis, tidak bersedia turun menjelaskan dengan sederhana, dan kadang memancarkan kesan arogan. Hal semacam ini memperlebar jarak antara orang-orang biasa dengan kalangan profesional. Pengetahuan terasa menjadi milik segelintir orang yang eksklusif.

            Henry Jenkins (2006) mengajukan gagasan penting. Para ahli sebaiknya tidak menutup diri. Mereka perlu menjadi penutur yang rendah hati, bersedia mendengar, dan mengupayakan cara menyampaikan pengetahuan agar lebih mudah dipahami. Kepakaran memang perlu dijaga, tetapi ia juga perlu dibagikan, tanpa merendahkan orang yang belum tahu.

            Namun, hanya mengandalkan para pakar tidak cukup. Masyarakat juga harus belajar memilah apa yang layak dipercaya. Literasi digital bukan cuma soal bisa memakai teknologi. Literasi berarti mengerti bagaimana pengetahuan dibangun. Masyarakat perlu dilatih agar tidak serta-merta percaya apa yang viral. Mereka mesti terbiasa memeriksa siapa yang menulis suatu kabar, apa latar belakangnya, apakah ada bukti pendukung, dan apakah pendapat itu didukung oleh penelitian yang serius.

            Upaya ini memerlukan kerja keras. Di tengah banjir informasi, banyak orang cenderung merasa lelah memeriksa keaslian kabar. Selain itu, sistem pendidikan kita jarang menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis. Sekolah lebih sering sibuk mengejar target hafalan, daripada mengajarkan cara bertanya atau menganalisis kebenaran informasi. Turkle (2015) menekankan, hanya dengan menumbuhkan rasa ingin tahu yang mendalam, kita bisa memperbaiki cara masyarakat memperlakukan pengetahuan.

            Platform digital pun memegang peran penting. Zeynep Tufekci (2017) menyebut bahwa perusahaan teknologi tidak bisa hanya memburu engagement. Mereka perlu memikirkan dampak sosial dari algoritma yang mereka buat. Tanggung jawab mereka besar sekali, sebab apa yang muncul di layar ponsel sering menjadi sumber “kebenaran” bagi jutaan orang.

            Kita juga mesti ingat, kebenaran tidak pernah bersifat beku. Ia selalu boleh diuji ulang, direvisi, atau diperbarui, asalkan prosesnya dilakukan secara jujur dan dengan bukti. Nichols (2017) menulis bahwa demokrasi tak akan bertahan jika warganya lebih percaya pada perasaan ketimbang pada bukti.

            Mungkin jalan masih panjang. Namun harapan tetap ada. Semakin banyak komunitas yang mengadakan diskusi kritis, semakin banyak media yang melakukan cek fakta, semakin banyak suara anak muda yang menolak menyerah pada kebisingan dunia maya. Kebenaran tidak akan mati begitu saja. Namun ia membutuhkan orang-orang yang bersedia merawatnya, dengan kerja keras, kejujuran, dan kesabaran.

            “The Death of Expertise” bukan semata fenomena luar negeri. Di Indonesia, kita juga mengalaminya. Runtuhnya kepercayaan kepada pakar telah menciptakan ruang kosong yang segera diisi opini, gosip, atau teori konspirasi. Di ruang publik kita, suara paling kencang sering dianggap paling benar. Padahal, tak semua suara lahir dari pengetahuan yang utuh.

            Namun saya percaya, kebenaran tetap punya tempat, sejauh kita mau menjaganya. Kita perlu kembali menghargai orang-orang yang memang belajar lama di bidangnya. Kita pun mesti mendidik diri agar tidak cepat-cepat merasa lebih pintar hanya karena bisa menemukan informasi di mesin pencari. Dunia memang berubah, tetapi prinsip mendasar tetap sama: pengetahuan yang sahih lahir dari kesabaran, proses, dan kerendahan hati. Jika tidak, kita akan terus terombang-ambing di zaman ketika siapa saja merasa berhak bicara apa pun, dan kebenaran hanya menjadi suara kecil yang nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk digital.

Leave a comment